Mungkin masih ada orang yang belum tahu tentang latar belakang kehidupan Sang Proklamator Ir. Soekarno yang terlahir dari rahim seorang wanita bernama lengkap Ida Ayu Nyoman Rai atau yang lebih dikenal dengan Rai Srimben.
Singaraja, Pada jaman itu, mungkin tidak ada orang yang menyangka, bahwa dari Paket Agung Singaraja, Buleleng Bali, rahim nasionalisme yang memerdekakan bangsa ini dari tirani kolonialisme hadir di bumi nusantara.
Sang Nasionalis, Ir. Soekarno lahir di Surabaya 6 Juni 1901 dari rahim Ida Ayu Nyoman Rai, seorang wanita berdarah bali yang diperkirakan lahir pada tahun 1881 di jalan Gunung Batur 24, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng Bali yang lokasinya berdekatan dengan Pura Bale Agung atau disebut juga Pura Desa Pakraman Buleleng.
Nyoman Rai Srimben lahir sebagai anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran, Nyoman Rai juga memiliki saudara laki laki bernama Made Pasek dan adik tiri bernama Ni Made Payas. sewaktu kecil orang tuanya memberi nama panggilan “Srimben”, yang mengandung arti limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.
Masa kecil dan remaja Nyoman Rai dihabiskan hanya di Paket Agung. Kesehariannya setelah membersihkan halaman Pura Bale Agung dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain adalah melakukan aktivitas menenun. selepas ibunya meninggal. Nyoman Rai tinggal bersama Ni Ketut Nisa yang merupakan adik dari ayahnya.
Penglingsir Keluarga Bale Agung, Jro I Made Arsana menuturkan, semasa remaja di Banjar Bale Agung, Nyoman Rai Srimben bersahabat dengan Made Lastri yang kemudian mengenalkannya dengan seorang guru Jawa pendatang bernama Raden Soekemi Sosrodiharjo
“Mereka resmi menikah pada tanggal 15 Juni 1897. Putri pertamanya, Raden Soekarmini, lahir pada tanggal 29 Maret 1898. Mereka kemudian berpindah ke Surabaya. Di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901 Nyoman Rai Srimben melahirkan Soekarno di sebuah rumah di sekitar Makam Belanda kampung Pandean III Surabaya,” cerita Jro Made Arsana.
Satu-satunya peninggalan saat ini yang masih ada di Bale Agung adalah tempat tinggal Ibunda Presiden RI pertama. Rumah yang kini menjadi saksi bisu dari kehidupan masa kanak-kanak dan remaja tersebut kini sudah mengalami renovasi pada tahun 2020. “Memang hanya ini yang masih bisa dipertahankan dan renovasi dilakukan pemerintah untuk mempertahankan keasliannya,” ungkap Jro Arsana.
Jasmerah, jangan sekali sekali meninggalkan sejarah adalah sebuah kalimat yang sering kita dengar untuk menggelokaran kembali jiwa dan semangat patriotisme bangsa ini. Mudah diucapkan, namun tak mudah untuk dilaksanakan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. (TIM)
Discussion about this post