Diduga mengalami Kejadian Ikutan Pasca Vaksin (KIPI) salah satu warga Dusun Purwa, Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, meregang nyawa setelah menerima vaksin di Puskesmas II Melaya di Kelurahan Gilimanuk, Jembrana.
Singaraja, Warga yang mengalami kejang dan meninggal pasca divaksin itu, teridentifikasi bernama Surayyah (58) meninggal di RS Saiful Anwar, Malang Jawa Timur, setelah menerima vaksin pertama jenis Astra Zeneca. Kasus meninggalnya warga pasca menerima vaksin itu berawal dari almarhum hendak mengantar cucunya kembali ke Malang.
Humaidi (62), suami korban, Minggu 19 September 2021 menuturkan, istrinya tersebut selama ini tidak memiliki riwayat sakit dengan gejala kejang. Bahkan saat dicek tekanan darah sebelum divaksin dinyatakan layak vaksin. Begitu juga hasil rapid antigen sebagai syarat melakukan perjalanan darat terkonfirmasi negatif. “Istri saya tidak memiliki riwayat kejang dan itu terjadi setelah ia di vaksin, sewaktu dirawat dirumah sakit seluruh organ vitalnya dan dinyatakan sehat,” paparnya.
Humaidi menuturkan, awal mula istrinya menerima vaksin pertama jenis Astra Zeneca saa hendak mengantar cucunya kembali ke Malang pada Sabtu 4 September 2021 lalu. Karena tercatat belum divaksin, petugas di Pelabuhan Gilimanuk meminta untuk tidak menyebrang menuju Pelabuhan Ketepang-Banyuwangi sebelum divaksin. Atas aturan itu, yang bersangkutan bersama dua cucunya diarahkan petugas untuk divaksin pada Puskesmas Gilimanuk. Beberapa jam kemudian pasca menerima vaksin, korban mengalami gejala demam tinggi hingga mengalami kejang. Bahkan saat kejang, dari mulut korban mengeluarkan darah akibat lidahnya terkena tekanan gigi.
Sehari kemudian, kondisi korban terus memburuk. Dengan menggunakan ambulans korban kemudian dilarikan kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Setelah mendapat perawatan beberapa lama kondisi korban sempat membaik hingga diperbolehkan pulang pada pada Selasa 14 September, sehari setelah berada dirumah, korban mengalami kehilangan respon terhadap lingkungan.
Disebutkan, korban tidak lagi ingat dengan anggota keluarga bahkan saat tengah disapa dan diingatkan. Atas kondisi itu, korban kembali dilarikan kerumah sakit dan sempat kembali kejang sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Kamis 16 September 2021. Dari Malang jenazah korban dibawa ke kampung halamannya menggunakan standar Covid-19 dengan katagori probable.
“Sehari setelah dirumah tiba-tiba istri saya kehilangan respon dengan keadaan sekitar. Seperti kehilangan kesadaran, Takut terjadi situasi memburuk, kembali dilarikan kerumah sakit dan sempat diminta untuk menandatangani surat standar perawatan Covid-19. Dan takdir berkata lain beberapa jam kemudian setelah mendapat perawatan istri saya semakin kritis dan nyawanya tak tertolong,” ucapnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Buleleng dr.Sucipto saat di konfirmasi mengaku tidak mengetahui secara langsung kasus tersebut. Namun menurutnya, jika kasusnya seprti itu penyebab korban meninggal belum bisa dipastikan karena vaksin. Menurunya,untuk mengetahui penyebab meninggalnya pasien berkaitan dengan KIPI, perlu dilakukan penelitian secara komprehensif atas kondisi pasien terlebih untuk diambil kesimpulan yang menjadi penyebabnya.
“Sebelum divaksin, kondisi kesehatan pasien dicek dulu. Setelah dianggap layak baru divaksin. Saya khawatir pasien memiliki comorbid ,kasus ini akan menjadi catatan untuk dilakukan langkah lebih lanjut agar masyarakat merasa aman saat divaksin,” ujar Sucipto. (TIM)
Discussion about this post